“Apakah tagline yang terdengar nasional bias benar-benar terasa lokal di Tanah Papua”
SORONG, 15 Mei 2025 – Telkomsel, sebagai perusahaan telekomunikasi nasional, mengusung semangat kebhinekaan melalui tagline “Telkomsel Paling Indonesia”. Namun, bagaimana pesan nasional ini diterima oleh masyarakat di wilayah yang kaya akan identitas budaya seperti Papua? Pertanyaan ini menjadi landasan riset yang dilakukan oleh Annisa Rosida, mahasiswa Program Studi Manajemen UNIMUDA Sorong angkatan 2022, dalam Internship Program Wilayah Papua Maluku PMDB 2024–2025 bersama PT. Telkomsel Branch Sorong.
Mengambil fokus di bidang Marketing Communication, Annisa merancang sebuah project komunikasi visual berbasis riset yang bertujuan mengevaluasi persepsi masyarakat Papua terhadap tagline “Telkomsel Paling Indonesia”. Riset ini dilakukan secara online dan offline, melibatkan lebih dari 140 responden yang terdiri dari pengguna dan non-pengguna Telkomsel, sebagian besar berusia 18–24 tahun dan telah menggunakan Telkomsel selama lebih dari tiga tahun. Hasil survei menunjukkan bahwa:
- 74% responden menilai tagline ini mampu merepresentasikan nilai-nilai lokal masyarakat Papua.
- 76% responden merasa tagline tersebut relevan dengan identitas Telkomsel sebagai penyedia layanan nasional.
- Namun, 52% responden mengaku belum memahami sepenuhnya makna mendalam dari tagline tersebut, khususnya dalam konteks lokal Papua.
Selain persepsi terhadap tagline, penelitian ini juga menemukan bahwa lebih dari 90% responden merasa terbantu oleh layanan digital Telkomsel, terutama aplikasi MyTelkomsel, yang telah menjadi bagian penting dalam aktivitas digital sehari-hari masyarakat Papua.
Meskipun demikian, terdapat catatan penting dalam aspek komunikasi emosional. Sekitar 40% responden menyatakan bahwa walau tagline mengandung semangat nasionalisme, penyampaiannya masih terasa kurang menyentuh secara emosional terhadap identitas budaya Papua.
Sebagai bagian dari penyampaian hasil riset, Annisa menyusun sebuah poster komunikasi visual bertema budaya Papua, dengan nuansa ungu yang elegan dan penuh makna. Dua figur utama berpakaian adat Papua ditampilkan dengan penuh kebanggaan, berdiri di atas representasi bumi, mengangkat simbol tradisi, serta dikelilingi oleh elemen-elemen khas seperti rumah Honai, burung Cendrawasih, dan tarian adat. Di dalam poster ini juga ditulis pesan, “Suara Masyarakat Papua untuk Telkomsel”, menegaskan bahwa Papua tidak sekadar menjadi objek komunikasi, melainkan subjek penting yang perlu didengar dan diberdayakan.
Melalui project ini, Annisa merekomendasikan agar Telkomsel terus memperkuat pendekatan komunikasi yang inklusif dan berbasis kearifan lokal, misalnya dengan melibatkan tokoh budaya, menggunakan narasi visual yang sesuai konteks daerah, serta mengembangkan kampanye yang lebih menyentuh sisi emosional masyarakat.
Riset ini menegaskan bahwa keberhasilan tagline nasional tidak cukup hanya pada kekuatan pesan, tetapi juga pada kemampuan brand untuk menghidupi makna tersebut di setiap wilayah yang disasar. Di Papua, “Telkomsel Paling Indonesia” berpotensi menjadi lebih dari sekadar slogan jika dapat benar-benar menyatu dengan kehidupan, nilai, dan budaya masyarakat setempat.
#Nisa